Senin, 10 April 2017

MELANGLANG BUANA, MEMANTAPKAN JATI DIRI


Seakan sudah diatur sebelumnya, setelah kurang lebih du tahun keluar dari pesantren al-Fatah Talangsari - Jember, Kyai Muzakki pada tahun 1970 menikah dengan Nyai Hj. Nur Fadhilah binti H. Fathur Rahman, dan tinggal bersama di Gebang Poreng Kecamatan Patrang Kabupaten Jember, tidak jauh dari tempat di mana dulu abahnya (KH. Achmad Syaha) pernah menetap dan menyebarkan syiar Islam.

Di hamparan tanah seluas 5000 MPasangan suami istri ini memulai biduk rumah tangga hingga dikaruniai tiga oranganak, yakni, Taufiqur Rahman, Ilmi Mufidah dan Achmad Madil Mz, di tanah ini pulalah kelak Kyai Muzakki mendirikan cikal bakal pusat gerakn dakwahnya hingga mengantarkan namanya bersinar tidak saja seantero tanah air tetapi juga di luar negeri bak kejora yang menerangi malam. 

Sebenarnya dipilihnya Jember sebagai pusat perjuangan dan gerakan dakwah oleh Kyai Muzakki bukanlah sebuah kebetulan, konon hal ini merupakan hasil istikharah abahnya, KH. Achmad Syaha.

Memang untuk ukurang daerah tapal kuda, Jember merupakan barometer, hal tersebut selain karena secara geografis Jember merupakan daerah yang paling strategis sebagai lalu lintas perekonomian kota-kota lainnya, juga karena perkembangan pendidikannya yang demikian pesat melampaui yang lain. Jember, waktu itu bahkan hingga saat ini di samping tercatat sebagai kota pelajar yang memiliki banyak PTU (Perguruan Tinggi Umum) dan PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) baik negeri maupun swasta, juga dikenal sebagai kota santri yang melahirkan banyak sekali tokoh Islam, ulama' atau bahkan para waliyullah, sebut saja misalnya KH. Abdul Aziz Tempurejo, Habib Sholeh al-Hamid Tanggul, Mbah Nur Kemuning Pakis, KH. Muhammad Siddiq dan KH. Abdul Hamid Talangsari (kemudian menetap di Pasuruan) adalah sederet nama yang diakui sebagai "Awliya'il 'adzim" di tanah jawa secara muttafaq alaih.

Sebagai orang yang terobsesi untuk mencapai maqom spiritual tinggi, Kyai Muzakki adalah sosok yang haus ilmu dan belum merasa puas dengan apa yang telah didapatkannya baik dari orangtuanya, paman dan para gurunya, maupun dari kelana spiritualnya pada tahap sebelumnya, di hatinya muncul keinginan pengalaman baru, tekad yang kuat tersebut baru terealisasi pada tahun 1971.

Seperti diketahui bahwa semasa bujang, Kyai Muzakki sudah sering melakukan kelana spiritual, banyak waktunya yang dihabiskan untuk tabarukan di beberapa pesantren, padepokan dan pesarean para masyayih dan auliya' khususnya di Jawa timur, dari data yang terkumpul, terdapat keterangan bahwa para masyayih, auliya' dan ahli karomah (baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat), yang sempat didatangi oleh Kyai Muzakki antara lain :
Untuk Kawasan Jember dan sekitarnya :
1. Kyai Moh. Shiddiq
2. Kyai Halim Shiddiq
3. Kyai Mahfudz Shiddiq
4. Kyai Abdullah Shiddiq
5. Kyai Ahmad Shiddiq
6. Kyai Dhofir Salam
7. Kyai Paga
8. Kyai Abdul Aziz
9. Kyai Ahmad
10. Kyai Muqid
11. Kyai Mun'im
12. Kyai Busthomi
13. Nyai Maryam Tempurejo
14. Kyai Hafidz Nogosari,
15. Kyai Chotib Klompangan
16. Mbah Nur Kemuning Pakis
17. Kyai Senadin Jerreng
18. Kyai Umar
19. Kyai Syukri Sumber Bringin
20. Kyai Sholeh Suger
21. Kyai Misrai Ledok Ombo
22. Habib Sholeh al-Hamid Tanggul
23. Kyai Hannan Tanggul
24. Kyai Abdullah Yaqin Mlokorejo
25. Kyai Jauhari Kencong
26. Kyai Zuhri
27. Kyai Tayyib dan Kyai Shonhaji Banyu Putih

Untuk kawasan Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi antara lain :
1. Kyai Hosnan bringin
2. Habib Muhdhar
3. Habib Abdullah al-Hamid
4. Habib Alwi al-Habsy Tanggarang
5. Kyai Ronggo
6. Kyai Asy'ari
7. Kyai Togo
8. Maulana Ishaq Pacarron
9. Kyai Syamsul Arifin Sukorejo
10. Kyai As'ad Syamsul Arifin Sukorejo
11. Datuk Abd. Rahman
12. Kyai Muhtar Syafa'at Blok Agung
13. Kyai Ahmad Qusyairi Glenmore

Untuk kawasan Probolinggo, Pasuruan, dan Jombang antara lain :
1. Kyai Hasan Seppo
2. Kyai Hasan Syaifur Rijal Genggong
3. Nun Muhlas Bedaduh
4. Kyai Zaini Mun'im Paiton,
5. Kyai Mino Probolinggo,
6. KH. Abd. Hamid,
7. Kyai Abu Ammar Pasuruan,
8. Kyai As'ad Bendungan, 
9. Kyai Mustofa Lekok
10. Kyai Abd. Jalil
11. Kyai Holil Sidogiri
12. Kyai Nawawi Sidogiri
13. Kyai Mustain Romli Peterongan
14. Kyai Hasyim Asy'ari Jombang
15. Semua Wali Songo di pulau Jawa.

Di Tahun 1971 berawal dari pertemuannya dengan KH. Masyurat (seorang ulama fenomenal dari Madura), Keinginan Kyai Muzakki untuk terus menuntut ilmu dan menambah pengalaman-pengalaman baru kembali berkobar, maka setelah mendapat restu dan ridho dari berbagai pihak, terutama isteri dan kedua orangtuanya, kendati harus meninggalkan istri yang baru satu tahun dinikahinya dan putra sulungnya yang masih berumur tujuh bulan, demi kecintaannya kepada Allah dan demi masa depan yang lebih gemilang, berangkatlah Kyai Muzakki mengikuti KH. Masyhurat melakukan kelana spiritual untuk yang kesekian kalinya.

Kali ini atas saran guru-gurunya, atas ajakan KH. Masyhurat dan terutama atas saran serta Ridho abahnya, beliau bertolak menuju pulau yang paling agamis dan memiliki "bujuk" paling banyak di Indonesia, yakni pulau Madura. Konon, para ulama besar dan waliyullah yang bertebaran serta malang-melintang di berbagai wilayah di tanah air pasca wali songo, berasal atau lebih tepatnya jebolan dari pulau ini.

Seperti halnya petualangan-petualangan spiritual sebelumnya, yang dilakukan Kyai Muzakki di pulau ini hanyalah "Sowan untuk tabarrukan" di beberapa ulama dan pesarean para masyayih dan auliya'. Beberapa nama yang sempat dihirup barakahnya oleh Kyai Muzakki di pulau ini antara lain :

1. Syaikhona Cholil bin Abd. Lathif Al-Bangkalani
2. Bujuk Mulana
3. Bujuk Muhammad
4. Bujuk Bagandan Sido Bulangan Pakong
5. Bujuk Candana Kwanyar Bangkalan
6. Bujuk Kantandur
7. Kyai Abu Syamsuddin Batu Ampar
8. Kyai Abd. Majid Bata-Bata
9. Kyai Baidhowi
10. Kyai Abdul Hamid
11. Kyai Bakir Banyuanyar
12. Kyai Syarkowi,
13. Kyai Ilyas Guluk-Guluk
14. Kyai Abdul Alam Prajjan
15. Ulama-ulama Kembang Kuning dan Panyeppen Pamekasan
16. Kyai Jazuli Talangoh
17. Bujuk Rabah Sampang
18. Bujuk Tongket Pamekasan
19. Kyai Imam
20. Kyai Ahmad Dahlan Karay
21. Agung Utsman Lenteng Barat, Sayyid Yusuf Talangoh
22. Bindara Saut Ratu Sumenep

Jember 07 Mei 2017.




EmoticonEmoticon