Tampilkan postingan dengan label MEMULAI PERJUANGAN SEJATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEMULAI PERJUANGAN SEJATI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Oktober 2017

KH AHMAD MUZAKKI SYAH ==> JAMA'AH MAJELIS DZIKIR MANAQIB PIMPINAN KIAI MUZAKKI

Majelis dzikir Kiai Muzakki memiliki efektifitas dan daya kabul yang tinggi dalam meloloskan berbagai hajat dan menyelesaikan pelbagai masalah yan dihadapi pengikutnya, maka gerakan dzikir tersebut terus berkembang pesat tidak saja dipelbagai kawasan di tanah air, tetapi juga merambah hingga Malaysia, Brunei Darussalam, India, Australia, Mesir, dan Arab Saudi.

Kendati tidak ada kartu anggota dan data base resmi mengenai jumlah jama'ah dzikir manaqib di bawah pimpinan Kiai Muzakki yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri, namun yang sempat tercatat dalam dokumen Ust. Drs. H. Moh. Rifa'i Ikhsan (sekretaris Imam Besar Manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani PP. Al-Qodiri) menunjukkan bahwa para murid dan pengikut Kiai Muzakki yang menjadi imam dan koordinator Imam Manaqib dengan ribuan Jam'ah masing-masing yang tersebar dipelbagai daerah di Indonesia dan luar negeri antara lain sebagai berikut :
1. Jabotabek dan sekitarnya di bawah Imam Kiai Junaidi  al-Baghdadi, Kyai Miswan dan Kiai Sofyan.
2. Jogjakarta di bawah Imam Kyai Suja'i.
3. Cirebon dan Majalengka di bawah Imam KH Supriadi.
4. Sumatra di bawah Imam KH. Qomaruddin.
5. Lampung di bawah Imam KH. Maulana Syuhada'.
6. Kalimantan di bawah Imam KH. Ahsan Syaifur Rizal.
7. Maluku di bawah Imam KH. Alimin.
8. Sulawesi di bawah Imam KH. Sulaiman Dawud.
9. Irian Jaya di bawah Imam Kyai Bashori Idris.
10. Jawa Timur di  bawah Imam KH. Ir. Sartono, M.Pd.
11. Jawa Tengah di bawah Imam KH. Abdul Aziz.
12. Jawa Barat di bawah Imam KH. Ali Mukmin.
13. Bali di bawah Imam KH. Romli, KH. Hamzah Hosnan & Ust. Puryono.
14. Malaysia di bawah Imam Tuan datuk Athoillah.
15. Brunei Darussalam di bawah Imam Abdur Rahman Bafaqih.
16. Australia di bawah Imam Usta. Dr. Sujarwo.
17. Mesir dibawah Imam Ust. Khlid Ichsan, Lc.
18. Arab Saudi di bawah Imam KH. Rosyid dan Syaikh Maksum.
19. Madura di bawah Imam KH Ibnu Ali Zein.
20. Malang di bawah Imam KH. Khairul Anwar.
21. Pasuruan di bawah imam Kyai Suripto.
22. Lumajang di bawah Imam KH. Jauhari dan KH. Baihaqi.
23. Banyuwangi di bawah Imam KH. Suhaini Efendi & Kyai Sulthon Sulaiman.
24. Situbondo di bawah Imam Kyai Nur Afandi.
25. Bondowoso di bawah Imam KH. Zainal Abidin dan KH. Sunaryo.
26. Blitar di bawah Imam KH. Ali Mukmin.
27. Jombang di bawah Imam KH. Ali Mukmin.
28. Madiun di bawah Imam KH. Ali Mukmin.
29. Kediri di bawah Imam KH. Ali Mukmin.
30. Trenggalek di bawah Imam KH. Ali Mukmin.
31. Jember di bawah Imam KH. Ainul Yaqin, KH Nurul Yaqin, KH. Fathur Rahman, Kyai Ma'ruf, dll.
[diambil dari dokumen PP. Al-Qodiri 2007]

Jumat, 20 Oktober 2017

KH AHMAD MUZAKKI SYAH ==> BENTUK DZIKIR MANAQIB PIMPINAN KIAI MUZAKKI SYAH

Dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodiri al-Jailani R.A yang dikembangakan Kiai Muzakki bukanlah tarekat sebagaimana umumnya, melainkan lebih berbentuk amalan dzikir atau majelis dzikir.

Menurut pengakuan Beliau kendati dirinya sangat respek terhadap tarekat yang ada di tanah air tetapi beliau tidak mengikuti tarekat-tarekat itu, kalau sampean tanya, saya mengikuti tarekat yang mana? maka saya tegaskan bahwa tarekat saya adalah tarekat Rasulullah, saya hanya mengikuti tarekat Muhammad Rasulullah saw. "Laa tarikah illa bi thoriqatu Muhammad Rasulullah saw" kata beliau.

Tarekat Rasululllah  dalam pandangan Kiai Muzakki adalah segala sesuatu yang dicontohkan baginda Rasulullah saw, baik menyangkut akhlaq, keyaqinan, cara beribadah, maupun menyangkut karakteristik, sifat-sifat dan prinsip hidup yang diterapkan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Namun menurut Kiai Muzakki terdapat beberapa persyaratan yang harus diperhatikan sebelum seseorang mengamalkan dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani R.A:

Pertama, harus dilandasi niat yang ikhlas lillah billah, lirosul birrosul. Semata-mata untuk beribadah dan mencari ridho Allah.

Kedua, dalam berdoa tidak dibenarkan meminta kepada Syaikh Abdul Qodir al-Jailani R.A, sebab dia hanya sebuah wasilah bukan pemegang otoritas pengabul doa, yang punya kewenangan mengabulkan doa hanyalah Allah semata. 

Ketiga, sebelum menyampaikan permohonan kepada Allah, sebaiknya diawali dengan bertaubat atas dosa-dosanya kemudian mohon dikuatkan imannya, lalu berdoa kepada Allah dengan khusu' dan penuh keyakinan bahwa Allah kuasa mengabulkan semua doa yang disampaikan. 

keempat, dalam melakukan wirid di atas harus dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan dilakukan secara istiqomah dengan etos tak kenal menyerah.

Selasa, 17 Oktober 2017

KH AHMAD MUZAKKI SYAH==> SEJARAH MANAQIB DI PP AL-QODIRI 1 JEMBER

Seperti disinggung sebelumnya, bahwa sejak Kyai Muzakki masih dalam kandungan, KH. Achmad Syaha (Abahnya) telah mengistiqomahkan amalan manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailanai RA setiap ba’da shalat subuh dan khusus tiap malam Jum’at , beliau menyembelih ayam untuk dzikiran yan sama, dengan para tetangganya.
Bahkan karena amalannya tersebut, KH. Achmad Syaha pernah didatangi oleh Rijalul ghaib, karena munculnya tejah (sinar yang sangat terang dan menyilaukan) yang berasal dari majelis dzikir manaqib yang dibaca Kyai Syaha bersama tetangganya saat itu untuk calon putranya yang kelak diberi nama Muzakki.
Maka sejarah amalan manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani  yang diamalkan oleh Kyai Muzakki sesungguhnya berasal dari abahnya sendiri (KH. Achmad Syah) dan pamannya (KH. Moh. Yazid).
Di samping itu, intensitas, komitmen dan mantapnya beliau menjadikan amalan dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani sebagai sarana da’wah beliau, konon juga karena telah mendapat restu, anjuran dan legitimasi dari waliyullah KH Abdul Hamid Pasuran ketika beliau bersama KH. Dhofir sowan ke KH. Abdul Hamid di Paruan. Inilah “kereta” yang kemudian mengantarkan namanya bersinar bak kejora dalam gulita dan dilabuhi banyak “bahtera” umat, bak samudra tak bertepi.
Sebetulnya Kyai Muzakki bukanlah satu-satunya pengamal dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani  di Indonesia, sebelumnya bahkan hingga kini sudah sangat banyak orang yang mengamalkan amalan yang sama, tetapi lain lubuk lain kepala, maka lain pula isinya. Seperti diketahui, para pengamal dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani  sebelumnya biasa menyebut ya sayyidi.. ya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani  … aghisni 3x sebelum mereka menyampaikan berbagai permohonannya kepada Allah. Swt.
Pada dzikir manaqib Kyai Muzakki  ucapan seperti di atas tidak pernah digunakan, sebab bagi Kyai Muzakki, Syaikh Abdul Qodir al-Jailani  dalam konteks tersebut hanyalah sebuah wasilah bukan pemegang otoritas pengabul doa, yang punya kewenangan mengabulkan doa hanyalah Allah swt, karena itu memohon atau berdoa harus kepada Allah semata bukan kepada selain-Nya.
Maka sebagai hasil tsamratul fikriyah beliau sekaligus merupakan karakteristik yang membedakan dzikir beliau dengan yang lain adalah ucapan “bilbarakah walkaramah Syaikh Abdul Qodir al-Jailani  waliyullah bi syafa’at nabi Muhammad bi idznillah waridollah, ya Allah 3x  …. Innaka ‘ala kulli syai’in qodir.. taqdi/ iqdi haajaatinaa…. Alfatihah.
Perbedaan dua ucapan diatas walau terkesan sederhana dan sangat teknis, tetapi sungguh mempunyai implikasi yang luar biasa dalam tataran keimanan dan aqidah seseorang.


Minggu, 10 September 2017

KH AHMAD MUZAKKI SYAH ==> PENGERTIAN MANAQIB


Secara bahasa, kata manaqib merupakan isim makan dari lafadz naqaba yang mempunyai arti, memimpin, menolong, dan menjelajah. Selain makna tersebut, ada pula beberapa kamus bahasa Arab yang mengartikan naqaba sebagai menyelidiki, memeriksa dan menggali.

Dalam Al-Qur'an lafadz naqaba disebut sebanyak tiga kali dalam berbagai bentuknya, misalnya naqiiban disebut dalam surat al-Maidah ayat 12, yang mengandung arti pemimpin, naqban disebut dalam surat al-Kahfi ayat 97, yang bermakna menolong, sementara naqabu disebut dalam surat Qaff ayat 36, yang bermakna menjelajah.

Ketiga makna sebagaimana disebut dalam ayat al-Qur'an di atas ternyata mempunyai kesesuaian dengan tujuan dasar pelaksanaan dzikir manaqib, yakni dimaksudkan dalam rangka menggali, menyelidiki dan meneliti sejarah kehidupan seorang pemimpin panutan umat untuk diteladani dan berdoa untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. melalui perantara para orang suci yang telah menjadi kekasih Allah swt.

Jadi dzikir manaqib sesungguhnya berkaitan erat dengan konsep tawassul, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an:
"Hai orang-orang yang berimana, bertaqwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjuanglah di jalan Allah agar kalian menjadi orang yang bertaqwa" (QS. 5 : 35)

Dalam hadits qudsi juga disebutkan:
"Sesungguhnya Allah adalah suci, tidak diterima kecuali yang suci pula".

Dalam riwayat lain juga disebutkan, "Barangsiapa yang ingin dicintai Allah, merapatlah dengan para kekasih Allah (waliyullah), duduklah bersama mereka, bergabunglah dengan mereka, maka kalian akan terciprati cahaya ruhaniyah mereka, kalian akan dibasahi oleh pancaran kecintaan Allah melalui mereka". (HR. Ibnu Mas'ud).

Dalam konteks inilah Kyai Muzakki sering bersenandung:

Syaikh Abdul Qadir ampun adabu,
Bi' sengko' adikker ka Allah ja' ambu,
Tawassul bukan masalah baru,
Qur'an nyebut sejak dulu.
Manaqib Syaikh Abdul Qadir,
Ngajak umat gemar berdzikir.
Meningkatkan daya berfikir,
Menghilangkan musyrik dan kafir.

Dengan demikian, secara umum dapat disebutkan bahwa dzikir manaqib adalah aktifitas dzikir dan istighasah dengan membaca sejumlah kalimah tayyibah dan doa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya melalui perantara (tawassul) orang-orang suci kekasih Allah swt.