Tampilkan postingan dengan label 24 Tahun Bersama Kiai Muzakki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 24 Tahun Bersama Kiai Muzakki. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2017

TERKENAL KARENA KEHILANGAN DAN YANG MEMBUAT SENANG KIAI MUZAKKI





Saya dulu selesai belajar di pesantren Al-Qodiri 1 Jember tahun 1996. Namun hingga tahun 1999 masih tetap mengajar di pesantren Al-Qodiri.
Tahun 1998, suatu hari saya didatangi KH Abdullah Jailani (pak Ustad), pada waktu itu beliau mampir setelah menjenguk putrinya yang dipondokkan di pesantren assuniyah kencong. Pak ustad mengatakan ke saya bahwa saya dapat dalam dari kiai muzakki untuk mengadakan manaqib syaikh abdul qodir jailani meski hanya dua atau tiga orang yang ikut.
Tanpa berfikir panjang, saya pun mengadakan manaqib. Pada waktu itu saya niatkan untuk mengadakan manaqib sebulan dua kali. Dan pada waktu malam pertama saya mengadakan manaqib ini saya mendapatkan ujian. Pada waktu itu saya punya enam kambing. Dan menurut saya, enam kambing tersebut sangat berarti bagi saya. Dan ternyata pada malam pembukaan manaqib tersebut, semua kambing tersebut diambil orang alias saya kemalingan.
Saya sudah pusing kehilangan itu. Sudah tidak punya apa-apa malah enam kambing hilang semuanya. Dan kemudian pada waktu manaqib yang selanjutnya sapi saya hilang juga. Saya benar-benar bingung pada waktu itu. Saya harus bagaimana.
Akhirnya ada yang menyarankan ke saya agar saya sowan / nyabis ke kiai muzakki. Dan pada saat saya sudah sampai depan pesantren, ternyata kiai sudah siapa di ndalem sambil menemui para tamu. Ketika melihat saya dari kejauhan, ternyata kiai langsung tersenyum ke saya.
“waduh, ada apa kiai kok senyum ke saya?” kata saya.
Lalu saya masuk, saya cium tangan kiai dan bersimpuh di hadapan beliau, dan beliau langsung mengatakan ke saya,
“Piye lee manaqibannya? Masih kuat?” bagaimana anakku, apa masih manaqiban?)dawuh beliau.
“Inggih kiai, kulo tasek manaqiban” (Ia kiai, saya masih manaqiban). Jawab saya.
“hmmm, yo lanang tenan lek ngono” (laki-laki sungguhan kalo gitu).
Dari mana kiai tahu kalo saya kemalingan. Padahal saya tidak menceritakan itu ke orang-orang luar. Dan pada waktu itu jarang sekali orang punya hape. Kalo sekarang kan sudah banyak.
Lalu beliau meneruskan dawuhnya,
“Kanggo mbalekne sapi karo wedhus mungguhe Allah kuwi gampang banget. Sampean kuwi bakal terkenal sebab kelangan sapi karo wedhus iki” (untuk mengembalikan sapid an kambing itu, bagi Allah itu sangat mudah. Kamu akan terkenal disebabkan kehilangan sapi dan kambing ini”
Dan ternyata benar, disebabkan saya kehilangan sapi dan kambing itu, saya jadi terkenal. Banyak kabar dari orang satu ke yang lain mengatakan ada seorang ustad yang kehilangan sapi dan kambing. Akhirnya banyak yang datang ke saya untuk minta diobati, minta doa dan lain-lain.
Singkat kata tidak lebih dari satu bulan, saya sudah bisa membeli sapi lagi dan bisa beli sepeda motor dan hingga hari ini motor tersebut masih ada. Saya buat kenang-kenangan.
Akhirnya ada beberapa santri yang modok disini. Sedikit-sedikit dan akhirnya sudah banyak seperti sekarang ini. Dan semoga akan terus bertambah.
Kiai muzakki itu sangat peduli ke santri. Dan yang membuat bangga kiai itu adalah seorang santri itu mau mengamalkan ilmunya. Kalau ada santri kaya itu biasa. Senang ya senang tapi tidak seberapa senang. Tapi jika ada santri yang punya langgar/ mushalla, punya santri dua atau tiga itu kiai senang. Senang sekali. (fifa)

*** cerita ini diperoleh dari wawancara eksklusif, dari beliau, KH Khumsun, Pengasuh Pesantren Barakatul Qodiri / Al-Qodiri 2 Gumukmas Jember.


Sabtu, 08 April 2017

24 TAHUN BERSAMA KIAI MUZAKKI

Abdul Rohim,S.Ag.
Saya sudah 24 tahun menjadi Driver Pribadi Kiai Muzakki (tahun 1992-hingga sekarang), sudah banyak sekali kekaromahan yang beliau nampakkan pada saya dan juga mutiara-mutiara hikmah yang mungkin tak saya dapatkan di bangku kuliah. Semua itu saya dapatkan ketika saya berada dalam satu mobil bersama kiai atau pun juga di tempat acara berlangsung.

Cerita ke-1 [2 gelas Aqua pengganti Oli]

Pada tahun 1996/1997 (saya agak lupa), saya diajak kiai untuk pengajian di Probolinggo. Waktu itu pengajian sangat penuh sekali, hingga seluruh lapangan terisi penuh, berjubel semua jamaah manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Cerita ini nyata, sayalah saksi hidupnya. Ceritanya begini,

ketika pulang dari pengajian tersebut, diperjalanan, kami melihat sebuah mobil Pick up / colt pick up Jama’ah Manaqib berhenti di pinggir jalan. Beberapa orang jamaah laki-laki dan perempuan, dan ada juga beberapa anak-anak kecil menunggu di luar di dekat mobil tersebut.

“Leee….ada apa itu, coba berhenti sebentar,tanyakan pada mereka ada apa, sepertinya mereka jamaah manaqib” kata kiai.

“Enggih Kiai” kata saya.

Lalu saya memberhentikan mobil dan keluar mendatangi mobil pick up tersebut. Lalu saya Tanya,

“Ada apa pak mobilnya”

“Ini mas, bensinnya habis.”

Lalu saya matur ke kiai,

“Kiai, mobilnya kehabisan bensin. Untuk membeli bensin masih jauh dari sini,Kyai”.

Setelah mendengar penjelasan saya, lalu Kiai mengambil Air Aqua dua gelas yang sudah tersediah dalam mobil yang didapat beliau dari pengajian tadi, dilobangilah Air Aqua tersebut dengan Jari beliau hingga berlobang, dan setelah itu ditiup. Setelah itu diberikannya Air Aqua dua gelas tersebut pada saya.

“Iki lee, berikan kepada pak sopirnya tadi, suruh masukkan ke tangki Oli-nya”. Saya sempat tercengang, saya gak habis piker, kok bisa-bisanya Kiai menyuruh saya memasukkan air ke dalam tangki Olie. Ada-ada saya Kiai, namun semua itu hanya saya pendam di dalam hati. Tak mungkin berani saya mengatakannya. Karena saya seorang santri, santri itu kan harus SENDIKO DAWUH APAPUN KATA KIAI. Pad waktu itu Saya hanya bisa menjawab, “Inggih kiai”, itu saja.

Saya gak berani protes, namun dalam hati saya menolak, gimana sih, kok disuruh masukkan Air Aqua dalam tangki Oli. Tapi ya sudahlah, yang penting saya berikan ke sopirnya.

“Ini pak sopir, oleh Kiai suruh masukkan Air Aqua ini ke dalam tangki oli.”

Dengan raut muka agak keheranan seraya tak percaya, pak sopir tersebut memasukkan Air Aqua dua gelas tersebut kedalam tangki, setelah dimasukkan, sopir tersebut masuk ke dalam mobil dan mencoba menghidupkan mobilnya, dan ternyata…,apa yang terjadi para hadirin?

TETAP MATI. Namanya juga air. Batin saya. Dari kejauhan kiai memanggil pak sopir,

“Pak sopir……, ayo di hidupkan mobilnya. Kok dibiarkan saja.”

Bahkan orang-orang yang diluar disuruh masuk. Mereka melihat heran dengan perintah kiai, gimana sih kiai, mobilnya dimasuki air sebagai ganti bensin, apa bisa hidup. Namun para jamaah tak satupun yang berani bicara. Akhirnya semuanya masuk ke dalam mobil.

Kiai dari kejauhan berkata lagi,

“loooh,,, ayo…. Semuanya masuk. Jangan diluar. Ayo masuk kedalam . setelah ini mobilnya berangat”.

Dan ternyata…………. Setelah dihidupakan ke tiga kalinya, dengan aneh bin ajaib, mobil tersebut hidup. Orang-orang yang berada di dalam mobil geger semua. “Lohhhh, kok bisa ya….kok bisa ya….,”

Setelah hidup , kiai bilang ke sopir tersebut,

“Nanti kalau sudah menemukan pom bensin, segera belikan bensin.”

Inggih Kiai,” jawab Pak sopir.

Dan akhirnya kita pulang.
Cerita tidak berhenti sampai disitu, keesokan harinya saya bertemu dengan sopir tersebut, dan dia mengatakan, tadi malam saya tidak langsung beli bensin, tapi saya buat jalan-jalan terus, sambil saya ingin membuktikan karomahnya kiai muzakki dengan dua aqua gelas tersebut, saya ingin tahu seberapa jauh habisnya bensin dua gelas tersebut, dan ternyata mobil saya dengan bensin aqua dua gelas tersebut berhenti setelah perjalanan kurang lebih 45 kilometer.

Cerita ini tidak hanya di tempat ini saja, ada juga cerita yang dibondowoso. Dan juga cerita sepeda motor milik banser pasuruan yang kehabisan bensin. Obatnya sama, yaitu dua gelas Aqua gelas dimasukkan dalam tangi.

Cerita ini di diperoleh dari Ustad Abdul Rohim,S.Ag, beliau adalah Guru di MTs Al-Qodiri dan hingga kini masih Menjadi Driver Pribadi Kiai kemanapun Kiai mengisi pengajian, terutama Ke Bali dan Probolinggo)

Silahkan ditunggu pengalaman Ustad Abdul Rohim selanjutnya. (kantor pengurus putra, 5 November 2016)